PERKEMBANGAN DAN PROSPEK BAHAN GALIAN NONLOGAM INDONESIA


Sari


Indonesia memiliki potensi dan cadangan bahan galian nonlogam cukup besar yang menyebar hampir merata di seluruh wilayah, antara lain gamping dengan cadangan terbesar, sekitar 12,75 miliar ton, granit 10,69 miliar ton, marmer 7,15 miliar ton, pasir kuarsa 4,48 miliar ton, dolomit 1,19 miliar ton, dan kaolin 723,56 juta ton. Sedangkan yang lain rata-rata di bawah 500 juta ton. Selama tahun 2007 tercatat produksi gamping 79,99 juta ton, granit 8,15 juta ton, pasir kuarsa 3,02 juta ton, kaolin 407,72 ribu ton, bentonit 160, 48 ribu ton, dolomit 201,13 ribu ton, fosfat 154,09 ribu ton, felspar 34,02 ribu ton, dan marmer 68,77 ribu ton. Pendukung lainnya adalah ketersediaan sumber daya manusia di sektor pertambangan BGI yang banyak, dan industri pemakai di dalam negeri yang sangat besar. Dengan indikator tersebut seharusnya pengusahaan di sektor ini dapat berkembang dengan baik sehingga dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi bangsa dan negara.

 

Antara tahun 2003-2007 tingkat pertumbuhan impor bahan galian nonlogam Indonesia masih tinggi, kinerja sektor bahan galian nonlogam masih konvensional dengan nilai tambah yang rendah; industri pertambangan bahan galian nonlogam masih terbatas pada kegiatan penambangan murni, kurangnya investasi/modal di sektor bahan galian nonlogam, belum berkembangnya teknologi pemrosesan sehingga sulit bersaing dengan produk impor, kurangnya promosi dari para pengusaha bahan galian nonlogam mengenai produknya, pengusaha sektor bahan galian nonlogam masih kategori pengusaha kecil; lemahnya kemampuan sumber daya manusia di sektor bahan galian nonlogam dukungan lembaga perbankan yang minim, sifat potensi bahan galian nonlogam yang menyebar, konsumen dalam negeri yang lebih senang menggunakan bahan galian nonlogam impor, penerapan aturan yang belum baik, dan banyaknya usaha bahan galian nonlogam ilegal. Berbagai persoalan tersebut menunjukkan pengelolaan di sektor pengusahaan bahan galian nonlogam Indonesia belum maksimal, sehingga sampai saat ini sektor tersebut belum memberikan manfaat dan kesejahteraan yang optimal bagi bangsa dan negara.

 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah, pengusaha, dan para investor di sektor industri bahan galian nonlogam diharapkan mengambil suatu kebijakan secara integralistik dan komprehensif agar sektor bahan galian nonlogam dapat berkembang, tangguh, sehingga dapat memberikan peran optimal bagi perekonomian nasional, seperti keiikutsertaan dalam pameran dagang internasional; peran dukungan perbankan; kerjasama dengan lembaga Penelitian dan Pengembangan sektor pertambangan, meningkatkan inventarisasi dan evaluasi potensi yang sudah ada; kebijakan dan regulasi untuk mempermudah dan menarik investor; mengatur mekanisme pasar bahan galian nonlogam agar sektor ini dapat berkembang; membuka perwakilan dagang di luar negeri; secepatnya mengimplementasikan UU Minerba No. 4/2009; mengembangkan keahlian aparat di daerah; meningkatkan kemampuan teknologi proses dan mensosialisasikan kepada konsumen dalam negeri mengenai pentingnya pemakaian bahan baku dalam negeri.

 


Kata Kunci


potensi, produksi, impor, kebijakan, perkembangan dan prospek

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Badan Pusat Statistik, 2008a. Statistik Perdagangan Luar Negeri. Ekspor, Jilid I dan Jilid II, 2007, Jakarta.

Badan Pusat Statistik, 2008b. Statistik Perdagangan Luar Negeri. Impor, Jilid I dan Jilid II, 2007, Jakarta.

Badan Pusat Statistik, 2008c. Statistik Industri Besar dan Sedang. Jilid I dan Jilid II 2003-2007, Jakarta.

Badan Pusat Statistik, 2008d. Statistik Indonesia,, Jakarta.

Badan Pusat Statistik, 2008e. Statistik Ekspor dan Impor Tahun 2007, Jakarta.

Bank Indonesia, 2008. Laporan Tahunan Perekonomian Indonesia and Proyeksi Perekonomian 2010, Jakarta.

International Mineral and Energy Cooperation Proyect Foreign Cooperation Bureau Ministri of Mines and Energy ASEAN, 2008. A market Analisis on Some

Industrial Mineral in Indonesia, Malaysia, The Philippines and Thailand (Cases : bentonit, feld- spar, gypsum, kaolin, limestone and sulphur).

International Monetary Fund, 2009. The Global Com- petitiveness Report Worl Economic Fondation.

International Monetary Fund, 2009. World Economic Outlook, 2009".

Miswanto, A dkk, 2006. Kajian Bahan Galian Industri, 2006, Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara, Bandung.

Madiadipoera, T., 2003. “Bahan Galian Indonesia di Indonesia”, Pusat Sumber Daya Geologi, Bandung.

United Nations, Economic and Social Commission for Asia and Pacific, 2008. Population and Develop- ment Indicator for Asia and the Pacific.

World Economic Fondation, 2008. The Global Com- petitiveness Report.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


##submission.copyrightStatement##

##submission.license.cc.by-nc4.footer##